
Inspeksi sambungan las menjadi sangat penting untuk dilakukan karena untuk memastikan material bebas dari cacat internal yang bisa berakibat pada kegagalan fungsi secara fatal.
Umumnya teknik inspeksi yang bisa melihat bagian dalam material tanpa merusak atau mengubahnya adalah dengan Radiographic Testing. Proses uji tersebut banyak diterapkan pada industri seperti pembangkit listrik, petrokimia, migas hingga manufaktur berat yang menggunakan komponen dengan tekanan tinggi.
Apa Itu Radiographic Testing?
Teknik uji radiografi atau yang dikenal dengan inspeksi sinar-X atau sinar gamma merupakan salah satu metode pengujian yang dipakai untuk menilai kondisi material tanpa merusak atau mengubahnya. Proses pengujian ini memanfaatkan sinar-X atau sinar gamma untuk menembus material yang diuji untuk menghasilkan gambar pada film radiografi atau detektor digital.
Gambar film radiografi tersebut akan mengungkapkan adanya cacat internal pada material contohnya adanya rongga, retakan atau kerusakan yang bisa mengganggu kinerjanya. Adapun prinsip kerja dari pengujian radiografi adalah berdasarkan pada kemampuan radiasi sinar yang digunakan untuk menembus material yang diuji.
Pada saat sinar gamma atau sinar-X diarahkan pada material yang diuji, sebagian radiasi akan diserap oleh material, sementara sebagian lainnya akan diteruskan. Jika pada proses pengujian terdeteksi adanya cacat pada material, seperti adanya rongga atau retakan, maka pada area tersebut bisa menyerap radiasi dengan jumlah lebih sedikit daripada material padat yang ada di sekitarnya.
Hal tersebut akan berdampak pada detektor yang terlihat berbeda secara kontras dengan detail lokasi dan bentuk cacat pada material.
Kelebihan Hasil Radiography Testing Pada Inspeksi Sambungan Las
Banyak teknisi yang lebih memilih untuk menggunakan teknik radiography testing karena berbagai kelebihannya, yaitu :
Gambaran visual yang detail
Pengujian tersebut mampu memberikan gambaran visual yang jelas dan detail dari struktur internal pada material yang diuji. Sehingga teknisi jauh lebih mudah untuk memahami kondisi cacat pada material dengan lebih jelas dibandingkan metode pengujian lainnya.
Hasil uji yang detail
Teknik uji radiografi menjadi satu pendekatan yang positif untuk bisa mendeteksi adanya retakan, rongga, porositas hingga inklusi yang terdapat di bagian dalam sambungan las. Teknik ini diklaim bisa mendeteksi berbagai jenis kerusakan atau cacat material dalam satu pengujian, termasuk jenis cacat volumetrik yang terhitung sulit untuk diketahui dengan metode lainnya.
Uji radiografi pada sambungan las juga bisa menemukan adanya cacat yang terjadi pada permukaan maupun bagian bawah permukaan material. Bahkan pengujian dimensi dan sudut pada sampel bisa diukur tanpa harus memotong material yang diuji. Hal tersebut memungkinkan untuk mengetahui adanya perubahan halus pada material seperti cacat, korosi, ketebalan serta kepadatan material yang diuji.
Hasil uji kuantitatif
Hasil gambar film dari uji radiografi bisa memberikan data yang bersifat kuantitatif sehingga memungkinkan untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat pada cacat yang terdeteksi. Kalangan teknisi dan insinyur pun bisa dengan mudah menilai tingkat keparahan cacat atau kerusakan pada material sekaligus mengambil keputusan yang tepat untuk tingkat kelayakan material yang diuji.
Hasil data permanen dan terdokumentasi
Hasil uji radiografi bisa disimpan sebagai dokumentasi yang permanen untuk kebutuhan audit sekaligus evaluasi di masa yang akan datang. Umumnya hasil gambar film uji radiografi bisa disimpan dalam bentuk digital atau sebagai film fisik untuk data catatan yang permanen mengenai material yang diuji.
Dokumentasi tersebut sangat penting untuk kebutuhan patuh pada peraturan yang berlaku, upaya kendali mutu hingga perbandingan untuk inspeksi selanjutnya.
Keterbatasan Proses Radiography Testing
Setelah menyimak beberapa kelebihan yang bisa diberikan dari proses uji radiografi di atas, penting untuk mengetahui apa saja kekurangan atau keterbatasannya, diantaranya adalah :
Risiko keamanan dan keselamatan
Efek dari penggunaan radiasi dari sinar-X atau sinar gamma bisa berakibat fatal pada keselamatan pekerja dan lingkungan sekitarnya. Untuk itu dalam proses pengujiannya wajib dilakukan oleh tenaga ahli yang profesional dan terlatih secara khusus untuk bisa mengoperasikannya dengan aman.
Untuk bisa melakukan proses uji radiografi yang aman wajib memperhatikan langkah keselamatan dengan tepat. Meliputi memastikan tersedia dan menggunakan alat pelindung serta peralatan pemantauan yang memadai, dimana hal tersebut wajib dipatuhi untuk bisa meminimalkan adanya risiko yang fatal.
Di samping itu, terdapat pedoman dan aturan mengenai paparan radiasi yang harus dipatuhi perusahaan demi menjaga keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
Akses atau portabilitas yang terbatas
Untuk melakukan uji radiografi memerlukan penggunaan berbagai peralatan khusus seperti proyektor sinar gamma atau generator sinar-X yang umumnya berukuran besar serta bobotnya berat.
Hal tersebut menjadi kendala tersendiri karena membuat adanya keterbatasan akses atau portabilitas penggunaan teknik tersebut. Sehingga teknik uji radiografi kurang cocok untuk diterapkan pada lokasi yang terpencil atau pemeriksaan lapangan tertentu.
Dampak pada lingkungan
Uji radiografi juga bisa memberikan dampak pada lingkungan karena pembuangan film hasil uji radiografi. Bahkan meski limbah radioaktif yang dihasilkan selama proses pengujian sudah dikelola dengan baik pun masih bisa memberikan dampak pada lingkungan.
Namun seiring dengan berkembangnya teknologi, kini tersedia sistem Radiografi Real-Time (RTR) yang mendukung pengambilan gambar secara digital sehingga jumlah limbah bisa diminimalisir. Umumnya, proses Radiographic Testing banyak digunakan untuk memeriksa sambungan las di berbagai bidang industri seperti :
- Otomotif
- Pembangkit listrik
- Militer
- Angkutan
- Dirgantara
- Area lepas pantai dan laut
- Petrokimia
- Alat kesehatan
- Pengemasan produk
- Manufaktur
- Pengelolaan sampah
Pengelasan merupakan salah satu proses yang banyak digunakan dalam pembuatan dan pembangunan berbagai produk serta struktur di masyarakat. Hal tersebut menjadikan proses Radiographic Testing menjadi penting untuk diterapkan sebagai satu langkah keselamatan untuk menjaga keselamatan public.
Proses uji yang bersifat destruktif maupun non destruktif menjadi dua upaya kendali mutu dalam proses pengelasan yang wajib untuk dilakukan. Pastikan keamanan dan kualitas sambungan las pada proyek Anda bebas dari cacat internal yang tak terlihat. Hubungi tim PT Allpro Mirai Indonesia sekarang juga untuk layanan Radiography Testing yang akurat dan terpercaya.
Frequently Asked Questions
1. Apa saja perbedaan dari NDT dan RT?
Proses uji radiografi (RT) merupakan salah satu teknik uji non-destruktif yang paling banyak digunakan. Untuk radiografi NDT dilakukan dengan memanfaatkan sinar-X dan sinar gamma untuk menilai integritas material sekaligus mendeteksi adanya kerusakan di dalamnya.
2. Apa yang dimaksud dengan proses uji radiografi untuk deteksi cacat pada pengelasan?
Teknik uji radiografi adalah proses pengujian radiografi yang memanfaatkan sinar gamma atau sinar-X untuk mengetahui adanya cacat atau kerusakan pada proses pengelasan.
3. Apa tujuan dilakukannya uji radiografi pada proses pengelasan?
Radiografi pada proses pengelasan pipa mempunyai tujuan untuk mengetahui adanya cacat atau diskontinuitas las pada sambungan pipa seperti pipa hydrant yang mempunyai risiko tinggi karena merupakan jenis pipa gas bertekanan tinggi.
4. Sebutkan apa saja jenis NDT (Non-Destructive Testing)
Terdapat 4 jenis NDT yang utama mencakup pengujian ultrasonic, pengujian partikel magnetic, pengujian penetran cair dan pengujian radiografi.